Kita Tidak Seharusnya Mentolerir Tindakan Ala Cowboy Walaupun Tujuannya Benar

Di tengah kebuntuan penegakan aturan dan di tengah kondisi yang serba tidak jelas maka kadang tindakan ala cowboy yang dilakukan oleh beberapa pejabat dianggap benar. Kita bisa sebut beberapa pejabat yang melakukan itu adalah Basuki Tcahaja Purnama (BTP) atau yang dulu akrab disapa Ahok, Tri Risma Harini, juga ada Dahlan Iskan.

Banyak masyarakat berasan senang dengan tindakan cowboy mereka dan seolah terwakili. Masyarakat yang sering disusahkan oleh urusan birokrasi merasa apa yang dilakukan pejabat tersebut memarahi para birokrat yang tidak beres dalam bekerja kemudian merasa bahwa kemarahan tersebut mewakili kemearahan mereka.

Para pejabat yang suka marah-marah dan berbaya cowboy akhirnya menjadi idola. Apa yang dilakukan dianggap selalu benar. Orang-orang yang dimarahi diposisikan sebagai pihak yang salah. Hal ini dengan mudah bisa kita lihat pada diri Ahok dan Risma.

Lama-lama masyarakat mendukung apa pun yang dilakukan oleh Ahok dan Risma. Mereka diposisikan sebagai pahlawan atau hero.

Baca juga: Munculnya Klaster Gowes Di Blitar, Hendak Sehat Malah Tertular Covid 19

Masyarakat lupa bahwa Ahok dan Risma adalah manusia biasa, mereka bisa salah. Dan yang lebih berbahaya lagi bahwa mereka juga bisa terlena dan menjadi tiran.

Ketika sudah berubah menjadi tiran dan itu didukung oleh masarakat maka ini menjadi berbahaya lagi. Tiran tapi didukung. Bertindak seenaknya tapi didukung. Berbuat salah tapi didukung.

Maka poin penting di sini adalah pada dasarnya kita tidak boleh mentolerir tindakan melawan hukum. Tindakan menyimpangi aturan hanya dalam konteks diskresi, bukan melawan hukum. Diskresi diperbolehkan tapi tetap dalam koridor aturan-aturan dan kewenangan tertentu.

Jangan memberikan jalan orang untuk menjadi tiran!