Gowes dan Kegilaan di Masa Covid 19

Pandemi covid 19 yang berdampak pada keluarnya kebijakan pembatasan mobilitas dan aktifitas, atau istilah resminya adalah pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) telah mengungkung dan membatasi gerak manusia Indonesia. Sebagai masyarakat yang need for affiliaty-nya tinggi hal ini tentu sangat terasa dampaknya. Kebiasan menghabiskan waktu dengan kumpul dan ngobrol ngalor-ngidul dibatasi.

Setelah sekian waktu pembatasan dilonggarkan, bahkan beberapa daerah sudah menyudahi kebijakan PSBB-nya. Pemerintah pusat melalui Presiden Joko Widodo sudah membuat kebijakan memasuki new normal. Masyarakat pun diminta untuk berdamai dengan covid dan berdampingan dengan virus tersebut.

Kondisi ini dimanfaatkan beberapa orang untuk berkumpul dan melakukan aktifitas yang menurut mereka menehatkan, yaitu mengail sepeda ontel. Maka muncullah komunitas-komunitas gowes. Di jalan-jalan raya, mudah sekali ditemui orang mengendarai sepeda ontel, terutama di akhir pekan.

Baca juga: Memutuskan dan Istiqomah Tidak Mudik untuk Memutus Rantai Penyebaran Covid 19

Meningkatnya komunitas ini sebenarnya sudah terjadi sebelum pandemi. Ini kelanjutan dari mulai maraknya kegiatan car free day di beberapa daerah. Tapi dibukanya kembali aktifitas warga membuat komunitas-komunitas ini makin meningkat.

Dampak lain dari trend baru ini adalah pada harga sepeda dan segala printilannya. Selain itu muncul juga strata dalam sepeda. Mereka yang berduit tidak mau menggunakan sepeda-sepeda yang harganya murah. Mereka akan membeli sepeda yang berharga puluhan juta, bahkan lebih dari seratus juta.

Bersaing di kepemilikan sepeda berharga mahal ini tentu keluar dari semangat awal dalam berafiliasi dan berolahraga. Ini menjadi adu gengsi. Dari segi olahraga pun menjadi tidak begitu masuk. Ini karena sepeda-sepeda berbandrol mahal tersebut membuat pengendaranya tidak mengeluarkan banyak energi energi untuk mengayuhnya.

Inilah salah satu kegilaan di masa pandemi ini.